Kabupaten Nias adalah salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang terletak di pulau Nias. Dengan Ibukota Gunungsitoli. Kabupaten Nias memiliki andalan pariwisata tersendiri selain Rumah adat dan Tari perang yaitu Tradisi Lompat Batu atau Fahombo yaitu tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 (dua) meter.
Konon ajang tersebut diciptakan sebagai ajang menguji fisik dan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Setiap lelaki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu. Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya tak kurang 2 (dua) meter dengan lebar 90 centimeter (cm) dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.
Selain sebagai penguji fisik dan mental bagi pemuda yang berhak mengikuti perang, Tradisi Fahombo ini juga dinilai sebagai syarat bagi mereka yang siap menikah, karena bagi mereka yang tidak berhasil melompati batu tersebut dianggap belum pantas untuk meminang seorang gadis. Begitu terkenalnya tradisi lompat batu ini membuat tradisi ini pernah diabadikan pada pecahan uang seribu rupiah pada awal tahun 1990-an dengan gambar seorang pria Nias yang sedang melompati tugu batu.



(5 votes, average: 4.2 out of 5)
August 31st, 2009 at 4:59 pm
tarian lompat batu nias apakah dijadikan juga sebagai alat pencarian jodoh??????
October 5th, 2009 at 1:42 pm
Tentu saja,karena setiap budaya harus kita lindungi.
Lompat Batu Nias menurut saya adalah sesuatu tradisi dari budaya nias yg tidak bisa di salin oleh budaya lain.
THANKS..
November 5th, 2009 at 4:32 pm
bneR bngeT budaYa LompaT baTu niAs g akaN d’amBiL aLx mNa dA yG bZa LmpaT bTu yG tngGix 2 meteR kcuaLi masYaRakaT niaS,,
saLuT untuK mAstaRakaT niaS,,
December 15th, 2009 at 12:32 pm
SaYa HnYa mAu TrAdiSi LoMPaT bATu ItU tERuS d LEsTaRiKaN OLeh PMUdA/I NIAS.
JgN sAmPaI bUdAYa QItA D kLaIM olEh PiHaK yAnG tIdAk B’TanGGUng JaWab.
NIAS aDalAH bUdAyA yAnG uNIk dRi BuDayA2 yAnG LaIn!
Pesan BuAt AnAk2 NIAS:
jANgAN mAlU MeNjAdi AnAk NIAS,KaReNa NiAs JUgA BiSA b’prestasi.
YA’AHOWU FEFU!!
January 18th, 2010 at 11:15 pm
budaya perlu dikembangkan,,tp yg terpenting adalah pribadinya yt hrs maju, paradigma
dirubah sesuai dengan tuntutan zaman.
February 28th, 2010 at 10:56 pm
Lompat batu merupakan warisan budaya Nias yg sudah sejak lama dikenal oleh banyak orang. Tapi sebagai orang Nias saya meminta kepada penulis untuk mengubah isi dari pragraf yg ke-3,karena tidak ada dalam sejarahnya lompat batu merupakan syarat untuk dapat menikah. Secara logika, menurut saya jika pemuda Nias yg tidak bisa lompat batu,mungkin sekarang akan banyak pemuda Nias yg lajang/tidak menikah. Untuk itu saya minta kepada penulis untuk meninjau kembali sejarah lompat batu Nias. Karena saya merupakan seorang pelompat batu yg berasal dari desa Bawomataluo. Dan saya sendiri tidak terima jika sejarah lompat batu disalah artikan. Sekali lagi saya memohon agar pragraf ketiga hapus aj. Demikian untuk dimaklumi.
Untuk saudara Cynthia Dewi : lompat batu bukan untuk ajang mencari jodoh. Akan tetapi lompat batu merupakan syarat untuk mencari prajurit2 yg siap untuk ikut berperang.