Salah satu perusahaan terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang pertambangan energi, telekomunikasi dan informasi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menyatakan telah memperoleh tawaran dari berbagai investor strategis potensial dari, beberapa negara di dunia antara lain Australia, India, Malaysia dan Filipina termasuk dari dalam negeri, untuk merasionalisasi sahamnya di PT Bumi Resources Tbk (BUMI).
Bakrie & Brothers menyatakan pihaknya pertama kali mengumumkan rencana rasionalisasi pada tanggal 12 Oktober 2008, dan menjelaskan rencana pelunasan kewajiban yang dijaminkan sebesar US$ 1,2 milyar. BNBR melaksanakan paparan kepada publik pada 13 Oktober 2008, bersama dengan kelima perusahaan yang terafiliasi untuk memberikan informasi terbaru tentang fundamental perusahaan yang kuat, juga memberi klarifikasi terhadap berbagai rumor mengenai pinjaman dan gadai serta rencana rasionalisasi portofolionya.
Proses tersebut ditandai dengan kerjasama strategis BNBR dengan Avenue Luxembourg SARL, dimana Avenue Luxembourg SARL telah menambah kepemilikan sebesar 15,3 persen di PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), anak perusahaan BNBR, atau setara dengan US$ 46 juta. Penawaran yang sedang dinegosiasikan tidak hanya harga dan struktur transaksi, tapi juga perjanjian pasokan batu bara. Proses negosiasinya memerlukan pertemuan intensif, yang diadakan di Indonesia dan di luar negeri, sehingga memerlukan waktu untuk finalisasi.
Hal ini adalah untuk memastikan bahwa BNBR memperoleh hasil yang terbaik bagi kepentingan seluruh stakeholder. Penawaran telah diberikan oleh mitra strategis potensial yang berminat baik dari swasta maupun pemerintah Indonesia, Australia, India, Malaysia, dan Filipina. Dikatakan semua perusahaan portofolio BNBR telah mengumumkan kepada regulator rencana mereka untuk membeli kembali saham “buy back”.
PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) akan membeli kembali maksimum 7,5 persen, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) maksimum 20 persen, Bumi Resources maksimum 20 persen, Bakrie Development maksimum 20 persen, dan PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) maksimum 20 persen.


