Wellington-Pemerintah Selandia Baru telah memberi ijin kepada Biotech entrepreneur Living Cell Technologies Ltd (LCT) untuk melakukan percobaan medis yaitu transplantasi sel-sel yang berasal dari babi yang akan dimasukan kedalam tubuh manusia. Hal tersebut merupakan dobrakan baru dalam pengobatan diabetes.
Menurut Menteri Kesehatan Seladia Baru, David Cunliffe, proses tersebut dinamakan xenotransplansi. Pengobatan tersebut mempunyai dampak yang besar bagi penderita diabetes. Teknologi xenotransplansi akan membuat Selandia Baru sebagai pelopor dalam pengobatan diabetes.
Biotech entrepreneur Living Cell Technologies Ltd (LCT) akan mengambil bagian pankreas babi untuk menghasilkan insulin bagi pederita diabetes tipe 1. Walaupun xenotransplansi akan memberi manfaat bagi penderita diabetes, tapi ada resiko yang masih menjadi kontroversi, xenotransplansi akan membawa virus babi yang akan menyebar dan menginfeksi manusia.
Cunliffe mengatakan bahwa dirinya sadar jika suatu percobaan akan membawa resiko tapi resiko tersebut harus diperkecil. Cunliffe juga menambahkan bahwa dia telah mematuhi peraturan dalam percobaan tersebut dan memberikan kontribusi yang baik bagi WHO (World Health Organisation).
Pada tahun 2005 New Zealand Medical Association (NZMA) telah memperingatkan menularan virus melalui cara transplatasi dengan binatang berpotensial dapat membunuh jutaan manusia. Ketika aplikasi Biotech entrepreneur Living Cell Technologies Ltd (LCT) dibuat pemerintah Selandia Baru sudah membuat Wellington think tank, Dewan Keamanan menghimbau menteri kesehatan jika transplantasi jaringan-jaringan dari babi akan mengakibatnya infeksi pada manusia.
Menurut Direktur LTC, Professor Bob Elliot, yang melakukan penelitian dan telah menyuntikan sel sel babi kepada manusia pada tahun 1996 dan 1997. Lima warga negara Rusia telah disuntikan dengan sel-sel babi menunjukan penurunan penggunaan suntik insulin dari 23 persen sampai 100 persen, dan kadar gula dalam darah telah turun empat dari lima pasien.


