Pasukan negeri Matahari Terbit Jepang di Irak, mengakhiri misinya dalam sebuah upacara di pangkalan koalisi di salah satu bekas istana Saddam Hussein di Baghdad, demikian diumumkan militer Amerika Serikat. Anggota-anggota Pasukan Bela Diri Darat Jepang bertugas bersama pasukan koalisi sejak awal konflik di Irak. Dengan satu kontingen kecil yang melakukan misi dukungan udara, Jepang menerbangkan masuk barang dan personel untuk membantu koalisi pimpinan AS.
Upacara pelepasan itu dilakukan di Istana Faw, satu dari sejumlah bekas istana Saddam, di Camp Victory dekat bandara Internasional Baghdad. Pasukan darat Jepang ditempatkan terakhir kali di Samawa, Irak Selatan, dan mereka bertugas memasok air, membangun kembali sekolah dan jalan, serta memberikan bantuan medis sampai 2006. Misi logistik Jepang kemudian melakukan 800 penerbangan, dengan mengangkut 46.000 penumpang dan 600 ton barang antara Baghdad dan daerah Irak Selatan.
Pasukan Jepang dikirim ke Irak pada 2004 oleh Perdana Menteri Jepang saat itu Junichiro Koizumi setelah invasi pimpinan AS pada Maret 2003, dan itu merupakan pengiriman pertama pasukan bersenjata Jepang sejak 1945 ke sebuah negara dimana perang sedang berlangsung. Jepang secara resmi menjadi negara penganut paham perdamaian sejak kekalahannya dalam Perang Dunia II.
Akhir misi udara di Irak itu diperintahkan pada 28 November, setelah penempatan empat tahun yang melibatkan 600 prajurit. Misi itu, yang sangat tidak populer di kalangan publik Jepang, merupakan operasi militer terakhir Jepang di Irak setelah negara itu mengakhiri penempatan pasukan darat pada 2006. Jepang akan terus mendukung Irak melalui langkah-langkah seperti pinjaman-pinjaman dalam bentuk yen dan kerja sama teknologi. Pemerintah Jepang diperkirakan akan memusatkan perhatian pada perluasan misi angkatan laut di Lautan India yang akan membantu pemasokan bahan bakar bagi operasi militer pimpinan AS di Afghanistan.


