Setelah melakukan serangan sporadis tanpa henti kurang lebih selama 22 hari lamanya ke wilayah Palestina khususnya di sekitar wilayah padat pemukiman Jalur Gaza, pasukan Israel menarik diri dari sejumlah posisi penting di dan sekitar Kota Gaza, mulai hari Minggu (waktu setempat). Hal ini dipastikan setelah negara Yahudi itu mengumumkan gencatan senjata sepihak dalam perang dengan Hamas. Pasukan darat mundur ke arah pagar perbatasan Israel di Jalur Gaza bagian timur dan utara. Pihak militer Israel juga mengkonfirmasikan bahwa pasukan Israel telah memulai penarikan bertahap dari Jalur Gaza. Penarikan pasukan tersebut dilakukan setelah Perdana Menteri Israel Ehud Olmert pada Sabtu (waktu setempat) memerintahkan diakhirinya operasi-operasi ofensif di Gaza setelah pertempuran yang dirancang untuk mengakhiri penembakan roket Hamas ke wilayah negara Yahudi itu.
Namun, dalam pernyataannya itu Olmert mengatakan bahwa pasukan Israel tetap berada di wilayah tersebut dan akan balas menembak jika mereka diserang. Secara terpisah pihak Hamas juga mengumumkan adanya gencatan senjata selama sepekan untuk memberi waktu Israel menarik diri dari wilayah itu. “Kami dalam gerakan-gerakan perlawanan Palestina mengumumkan gencatan senjata di Jalur Gaza dan menuntut pasukan musuh ditarik dalam waktu sepekan dan membuka semua lintasan perbatasan agar bantuan kemanusiaan dan barang kebutuhan pokok bisa masuk,” sebut Mussa Abu Marzuk, wakil kepala politbiro Hamas, di Damaskus.
Sedikitnya lebih dari 1.300 penduduk Palestina, termasuk lebih dari 400 anak, tewas dan 5.000 lebih korban cedera di wilayah Jalur Gaza sejak Israel meluncurkan ofensif terhadap Hamas mulai pada 27 Desember. Sedangkan di pihak Israel sendiri, hanya tiga warga sipil dan 10 prajurit tewas dalam pertempuran dan serangan roket. Selama perang 22 hari itu, sekolah, rumah sakit, bangunan penyimpanan logistik milik PBB yang ada di Palestina beserta ribuan rumah rusak terkena gempuran roket dan rudal pasukan Israel.
Pemerintah Palestina menyatakan bahwa jumlah kerugian prasarana mencapai US$ 476 juta. Penghentian serangan itu dilakukan setelah negara Yahudi tersebut memperoleh janji dari Washington dan Kairo untuk membantu mencegah penyelundupan senjata ke Gaza, hal utama yang dituntut Israel bagi penghentian perang. Kekerasan antara Israel dengan Hamas meletus lagi setelah gencatan senjata enam bulan berakhir pada 19 Desember.
Israel membalas penembakan roket pejuang Palestina ke negara Yahudi itu dengan melancarkan gempuran udara besar-besaran sejak 27 Desember dan serangan darat ke Gaza dalam perang tidak sebanding dengan kecaman dan kutukan dari berbagai negara yang ada di seluruh dunia. Kelompok Hamas menguasai Jalur Gaza pada Juni 2007 setelah mengalahkan pasukan Fatah yang setia pada Presiden Palestina, Mahmud Abbas dalam pertempuran mematikan selama beberapa hari. Sejak itu wilayah pesisir miskin dan kantong Palestina tersebut dibloklade oleh Israel.



